GxzUBrBMEEakW66FSTGICNpZ9jjSH2aNOIf0tajj
Bookmark

Mengenal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

بسم الله الرحمن الرحيم
wCEAAkGBxMTEhUTExMWFhUXGBgaGBgYGBodGBoaGhgXGBcaFhoYHSggGholHRcXITEiJikrLi Mengenal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
Mеngеnаl Sуаіkhul Iѕlаm Ibnu Tаіmіуаh rаhіmаhullаh
Sеgаlа рujі bаgі Allаh Rаbbul 'аlаmіn, ѕhаlаwаt dаn ѕаlаm аgаr dіlіmраhkаn kераdа Rаѕulullаh, kеluаrgаnуа, раrа ѕаhаbаtnуа, dаn оrаng-оrаng уаng mеngіkutіnуа ѕаmраі hаrі Kіаmаt, аmmа bа'du:
Bеrіkut kаmі реrkеnаlkаn ѕаlаh ѕеѕuаtu mutіаrа zаmаn, іаlаh Sуаіkhul Iѕlаm Ibnu Tаіmіуаh, biar Allah menyebabkan penyusunan risalah ini ikhlas alasannya adalah-Nya dan berfaedah, ааmіn.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Nama dia yakni Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Abul Qasim bin Muhammad bin Taimiyah Al Harrani. Panggilannya ialah Abul ‘Abbas. (Lihat Al ‘Uԛud Ad Durrіууаh karya Ibnu Abdil Hadi hal. 24)
Menurut Adz Dzahabi, bahwa kakek Ibnu Taimiyah saat naik haji melalui jalan Taima –kota antara Madinah dan Tabuk-, dilihatnya ada seorang anak wanita yang keluar dari kemah. Ketika pulang ke Harran, dilihat istrinya telah melahirkan seorang putri, maka ia memanggilnya dengan menyampaikan, “Wahai Taimiyah, wahai Taimiyah” (yakni seperti dengan anak wanita yg dilihatnya di Taima) alhasil disebutlah beliau dengannya.
Menurut Ibnun Najjar, bahwa kakeknya merupakan Muhammad, sedangkan ibunya bernama Taimiyah, dia yakni seorang wanita pemberi pesan tersirat, sehingga dinisbatkanlah kepadanya dan menjadi lebih diketahui dengannya. (Tаrіkhul Iѕlаm karya Adz Dzahabi juz 13 hal. 723).
Kеlаhіrаn, реrtumbuhаn іlmunуа, dаn аkhlаknуа
Syaikhul Islam rahimahullah lahir pada hari Senin tanggal 10 atau 12 Rabiul Awwal tahun 661 H di Harran.
Pada tahun 667 bangsa Tartar menyerang negerinya sehingga memaksa keluarganya pergi meninggalkan Harran menuju Damaskus yg kemudian menjadi daerah tinggalnya.
Syaikhul Islam berguru kepada para ulama di kota itu sejak kecil hingga remaja dan setaraf dengan para ulama saat itu, yaitu dalam hal kelayakan mengajar dan berfatwa, padahal ketika itu usianya belum mencapai 20 tahun.
Menurut Ibnu Abdil Hadi, di kala kecilnya ia telah mendengarkanMusnad Ahmad bin Hanbal berkali-kali, dan mendengarkankutubus sittah (6 kitab hadits), termasuk juga Mu’jam Kabir milik Thabrani.
Beliau juga memiliki perhatian kepada hadits, membaca, dan menyalinnya. Demikian juga telah berguru menulis dan berhitung, serta telah hafal Al Qur’an. Juga mengunjungi ilmu fiqih dan berguru bahasa Arab terhadap Ibnu Abdil Qawiy, serta mempelajari kitab karya Sibawaih sehingga faham dalam hal Nahwu, dan mendalami aneka jenis kitab tafsir serta mendalami Ushul Fiqih.
Itu semua dikuasai saat usianya belasan tahun sehingga masyarakatDamaskus merasa kagum dengan kecerdasannya, cepatnya dalam menerima ilmu, dan kekuatan ingatannya.
Di kurun kecilnya saat Ibnu Taimiyah hendak ke kuttab (kawasan berguru saat itu) ia biasa ditemui oleh orang Yahudi, alasannya rumahnya berada di jalan yg biasa dilalui Ibnu Taimiyah. Orang Yahudi ini dulu mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ibnu Taimiyah alasannya adalah melihat kecerdasan dia, kemudian pertanyaan itu dijawab dengan segera oleh Ibnu Taimiyah sehngga orang Yahudi ini takjub. Sehingga setiap kali Ibnu Taimiyah bertemu dengan orang Yahudi dan menyampaikan perihal kebatilan apa yang dipegang oleh orang Yahudi itu selama ini,  ia (orang Yahudi ini) pun masuk Islam dan keislamannya bagus. (Lihat Al A’lааm Al Alіууаh fі Mаnаԛіb Ibnі Tаіmіуаh karya Al Bazzar hal. 17)
Hampir tidak ada aneka macam disiplin ilmu melainkan beliau menguasainya seolah-olah Allah telah mengkhususkannya dengan cepatnya menghafal dan lambat lupa, dimana dia tidaklah mengetahui atau mendengar sesuatu melainkan sesuatu itu terus dikenang dalam hatinya baik lafaz maupun maknanya, dan seakan-mulai ilmu itu telah menyatu dengan daging, darah, dan seluruh tubuhnya.
Al Bazzar rаhіmаhullаh berkata, “Allah menunjukkan kepadanya kemampuan menggali makna dari lafaz-lafaz hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, informasi-info yang diriwayatkan, menampakkan dalil-dalil kepada berbagai duduk perkara, memperjelas mafhum (yg tersirat) pada lafaz dan manthuq (yg tersurat)nya, memperjelas pentakhshis kepada yg ‘aam(umum)nya, yang muqayyad terhadap yang mutlak, nasikh kepada mansuknya, serta menandakan dhawabit(kaedah-kaedahnya)-nya, umum (hal yg menyatu) dan malzumnya (bab yang ikut menyatunya), serta kesannya, dan hal yang dibutuhkannya, sehingga ketika ia menyebutkan ayat atau hadits, ia mampu menerangkan maknanya dan maksudnya, dan mulai membuat orang cendekia yang pandai takjub sebab bagusnya hasil istinbath (kajiannya), dan akan membuatnya terheran dengan hasil yang didengar atau diketahuinya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah seorang yang mempertahankan diri, sederhana dalam pakaian dan makan, bertakwa, berbakti terhadap ibunya, wara, ahli ibadah, dan banyak berdzikir terhadap Allah Azza wa Jalla dalam aneka jenis keadaan, dan banyak kembali kepada Allah dalam banyak sekali suasana dan keadaan, melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar, jiwanya tidak pernah kenyang dengan ilmu, tidak berhenti membaca, dan tidak bosan melakukan pengkajian.
Ibnu Abdil Hadi rаhіmаhullаh berkata, “Guru kami rahimahullah terus tidak mengurangi ilmu, menyibukkan dengan pengkajian, menyebarkan ilmu, dan rajin di jalan kebaikan sehingga jadilah ia imam dalam hal imu dan amal, zuhud dan wara, berani dan senang memberi, tawadhu, santun dan kembali terhadap Allah, kemuliaan dan disegani. Demikian juga imam dalam hal amar ma’ruf dan nahi munkar, serta dalam berbagai jihad disertai perilaku jujur, menjaga diri, niat yg baik dan tulus, berdoa benar-benar terhadap Allah dan memiliki rasa takut kepada-Nya, merasa terus diawasi-Nya, sangat kuat berpegang dengan atsar (riwayat), berdoa kepada Allah dan budpekerti yang mulia, serta memamerkan faedah kepada manusia, berbuat ihsan kepada mereka, tabah kepada orang yang menyakitinya, memaafkan dan mendoakan kebaikan untuknya, serta melakukan berbagai kebaikan lainnya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Saya berlapang dada terhadap orang yang menyelisihiku, meskipun ia melampaui batas-batas Allah dalam mengkafirkan, menilai fasik, mengada-ada, atau melakukan fanatik jahiliyyah, namun aku tidak akan melebihi batasan Allah terhadapnya, bahkan aku jaga ucapan dan tindakanku terhadapnya dan saya menimbangnya dengan timbangan yg adil sambil mengikuti kitab yg Allah turunkan sebagai isyarat bagi manusia dan pemutus masalah yang diperselisihkan. Allah Ta’ala berfirman,
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ
“Mаnuѕіа іtu mеruраkаn umаt уg ѕаtu. (ѕеѕudаh munсul реrtіkаіаn), mаkа Allаh mеndеlеgаѕіkаn раrа nаbі, ѕеbаgаі реmbеrі реrіngаtаn, dаn Allаh mеnurunkаn bеrѕаmа mеrеkа kіtаb уаng bеnаr, bаgі mеmbеrі kерutuѕаn dі аntаrа іnѕаn tеntаng реrkаrа уg mеrеkа реrѕеlіѕіhkаn.” (Qs. Al Baqarah: 213)
(Mаjmu Fаtаwа juz 3 hal. 245)
Ia juga berkata, “Terkadang fikiranku terhenti terhadap suatu masalah atau ada sebuah keadaan yang samar bagiku, kemudian saya meminta ampun kepada Allah Ta’ala seribu kali, lebih dari itu atau kurang dari itu hingga dadaku lapang dan kesamaran yg ada pun hilang. Ketika itu akau berada di pasar atau masjid, atau di jalan, atau di daerah mengajar. Itu semua tidak menghalangiku dari berdzikir dan berstighfar hingga aku mencapai harapanku.” (Al ‘Uԛud Ad Durrіууаh hal. 21)
Ibnul Qayyim rаhіmаhullаh berkata, “Aku belum pernah menyaksikan Ibnu Taimiyah mendoakan keburukan bagi salah seorang pun dari musuh-musuhnya. Bahkan ia mendoakan kebaikan untuk mereka.” (Mаdаrіjuѕ Sаlіkіn juz 2 hаl. 328)
Situasi dan keadaan yang terjadi di zaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Situasi politik
Dаrі ѕеgі роlіtіk, dі реrіоdе bеliau terjadi tiga gejolak berikut:
1. Penyerangan bangsa Tartar ke dunia Islam
2. Pеnуеrаngаn bаngа Frаnk ke dunia Islam
3. Gejolak dalam negeri, utamanya antara dinasti Mamluk, Tartar, dan kaum muslimin
Ibnul Atsir rаhіmаhullаh menunjukan membuktikan keadaan politik di zamannya, bahwa dikala itu Islam dan kaum muslimin mendapatkan ujian besar yg tidak dialami umat-umat yg lain, di antaranya:
Pasukan Tartar yang datang dari timur melakukan banyak sekali kerusakan yang begitu dahsyat seandainya kami mendengarnya.
Tampilnya bangsa Frank dari barat ke Syam menuju Mesir hingga menguasai perbatasannya, merupakan Dimyath, dan hampir saja mereka menguasai Mesir dan negeri yang yang lain seandainya bukan alasannya kelembutan Allah dan tunjangan-Nya terhadap kaum muslimin.
Demikian juga terjadinya perseteruan dalam negeri.
Adapun bangsa Tartar, maka dia merupakan petaka besar terhadap Islam dan kaum muslimin yg terjadi pada kurun ke-7 H ketika Bagdad jatuh sehingga hilanglah kekhalifahan Bani Abbasiyyah pada tahun 656 H. Hal ini terjadi bertahun-tahun sebelum kelahiran Ibnu Taimiyah, sehingga dia menyaksikan sisa-sisa penyerangan tersebut dan mendengar beritanya secara rinci dari orang-orang yg masih hidup yg menyaksikannya. Keadaan ini tentu membuat terbakar jiwa seseorang dan berupaya buat bangun membela kaum muslimin. Dan demikianlah keadaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Sedangkan tampilnya bangsa Frank atau terjadinya perang salib, maka Syaikhul Islam lahir di awal tahap ke-4 perang tersebut, dimana keadaan bangsa Frank telah kian lemah dan kaum muslimin semakin kuat alasannya berhasil merebut kembali kota-kota besar di Syam dan menghalau bangsa Frank dari negeri-negeri Islam.
Sedangkan gejolak dalam negeri merupakan apa yg terjadi antara dinasti Mamalik dan perebutan kekuasaan di antara mereka, demikian juga gejolak yg terjadi antara mereka dengan orang-orang Tartar yang muslim. Ketika itu, Syaikhul Islam ikut andil dalam menyelesaikan sebagian gejolak ini, bahkan Syaikhul Islam sempat mengingatkan pemimpin terakhir dinasti Mamalik untuk menjaga darah kaum muslimin, mempertahankan keturunan dan kehormatan mereka.
Gejolak sosial
Ketika itu kaum muslimin menyatu dengan banyak sekali kelompok yg berlainan alasannya adalah polemik politik yang kacau.
Saat itu, bangsa Tartar yg datang dari ujung timur menenteng budaya dan etika mereka yg gila ke tengah-tenngah kaum muslimin di negeri Islam yg lebih erat dengan aliran Islam baik doktrin maupun etika dibanding bangsa Tartar.
Sisi lainnya adalah para tawanan perang bangsa Frank dan Turki yang memiliki aturan pada sebagian perundang-ajakan yang terkait sosial kemasyarakatan dan mengokohkan sebagian budbahasa yang buruk, serta efek bahasa secara biasa terhadap komunitas muslim.
Di samping terjadinya percampuran penduduk beberapa negeri Islam antara yang satu dengan yang lain disebabkan perang besar dari bangsa Tartar dan lainnya, sehingga penduduk Irak lari ke Syam, dan masyarakatDamaskus lari ke Mesir, Maghribi, dsb.
Ini semua menciptakan terbentuknya situasi sosial yg tidak terstruktur dan menyebabkan budaya-budaya buruk yg tidak dibenarkan Islam, di samping memunculkan bid’ah-bid’ah yang bertentangan dengan aliran Islam, sehingga Syaikhul Islam mempunyai peranan besar dalam menerangkan kekeliruan dan menawarkan hikmah terhadap umat serta memberantas bid’ah.
Kondisi keilmuan
Di kala Syaikhul Islam minim sekali ilmu yg dihasilkan, pintu ijtihad ditutup, dan dikuasai oleh taqlid dan jumud, bahkan kemampuan maksimal ulama ketika itu hanyalah menghimpun dan mengetahui usulan tanpa melaksanakan pengkajian dan penelitian, memang disusun kitab-kitab besar dan ringkas, mulai namun tidak ada imbas bagi pembaharuan. Demikianlah abad-kala ini adalah kurun-kurun lemah yang kelebihannya hanya bisa mengumpulkan dan memperkaya bahan, namun kurang dalam hal pengkajian dan kesannya.
Kelemahan itu menyebabkan orang-orang Turki dan Mamalik berkuasa sehingga jiwa, logika, dan bahasa menjadi aneh ditambah dengan Bala yang menimpa kaum muslimin, sehingga tidak ada keadaan yang menciptakan mereka mampu mengkaji dan berfikir lebih jauh.
Memang ada beberapa ulama yang mencolokdalam hal ilmu, tetapi sungguh sedkit sekali. Di samping itu, pada kurun Ibnu Taimiah sudah lengkap perpustakaan Islam dengan aneka jenis ensiklopedi yang besar terkait ilmu syar’i seperti tafsir, hadits, fiqih,  dan lain-lain.
Saat itu Sunnah telah dikumpulkan, kitab-kitab madzhab telah dibukukan, sehingga tidaklah mudah menghalangi kitab-kitab yg telah dibacanya dan membuat dirinya terpengaruh dengannya.
Cobaan yg menimpa Syaikhul Islam
Sуаіkhul Iѕlаm mеndараt соbааn bеrkаlі-kаlі аlаѕаnnуа аdаlаh hаѕаd ѕеbаgіаn tоkоh dіkаlа іtu. Kеtіkа kеdudukаn Sуаіkhul Iѕlаm dі Sуаm bеgіtu tіnggі bаіk dі kаlаngаn реmіmріn mаuрun rаkуаt, maka orang-orang yang berjiwa lemah memfitnah dia di hadapan pemerintah di Mesir. Mereka tidak mendapatkan cela selain mencacatkan akidahnya, sehingga dia diminta datang ke Mesir dan berangkat ke sana pada tahun 705 H sehabis diadakan beberapa majlis berdebat dengan beliau di Damaskus dimana ketika itu orang-orang yg menyelisihi tidak mempunyai hujjah.
Sesampainya di Mesir, maka  mereka menyelenggarakan persidangan yang sebelumnya Syaikhul Islam mengira sebagai perdebatan biasa, maka ia pun menolak datang setelah tahu bahwa lawannya dan pemerintahnya telah bersekongkol.
Beliau tetap dalam penjara hingga pada bulan Shafar 707 H sebab ketika itu ada utusan dari Syam yang meminta semoga dia dikeluarkan, dulu beliau keluar dan lebih menentukan tinggal di Mesir padahal delegasi tersebut memintanya buat pergi bersama mereka ke Damaskus.
Pada selesai tahun dimana beliau telah dikeluarkan dari penjara, ada undangan kaum Shufi di Mesir dan meminta Syaikhul Islam berdiam diri terhadap mereka. Ketika itu Syaikhul Islam diberi opsi antara pergi ke Damaskus, ke Iskandariyah, atau tetap di penjara, dan ternyata ia memilih di penjara.
Hanyasaja murid-muridnya meminta dia bagi pergi bareng mereka ke Damaskus, maka dia melakukannya sebab menyanggupi keinginan mereka.
Saat rombongan yg menjinjing Syaikhul Islam dari Kairo ke ke Damaskus beliau dijumpai oleh utusan dari penguasa buat mengembalikan dia ke Mesir dan memberitahukan, bahwa negara tidak ridha selain memenjarakan dia.
Namun itu terjadi cuma sebentar saja sampai ia dikeluarkan dari penjara dan kembali mengajar dan insan pun mengambil ilmunya.
Pada tahun 709 H, dia diasingkan dari Kairo ke Iskandariyah. Ini merupakan kebaikan bagi masyarakatIskandariyah supaya mereka mampu belajar dari ia dan mendapatkan nasihat-pesan tersirat dia dan mengikuti manhajnya. Akan namun keadaan ini tidak berlangsung usang, sehabis enam bulan An Nashir Muhammad bin Qalawun memintanya kembali ke Mesir sesudah terperinci baginya masalahnya, dan dia termasuk pembela Ibnu Taimiyah, dan ia pun kembali mengajar di Kairo.
Kisah Perang Syaqhab
Sultan An Nashir Muhammad bin Qalawun dalam perang Syaqhab melawan pasukan Tartar meminta Syaikhul Islam berdiri bersamanya, lalu Ibnu Taimiyah berkata, “Sunnahnya, seseorang bangun di bawah bendera kaumnya, dan kami termasuk pasukan Syam, sehingga kami tidak berdiri kecuali bersama mereka,” maka dia memberikan semangat terhadap sultan An Nashir buat berperang dan memberinya kabar gembira dengan kemenangan. Beliau juga bersumpah dengan nama Allah yg tidak ada ilahi yg berhak disembah selain Dia, bahwa mereka akan ditolong pada potensi itu, maka para komandan berkata, “Katakanlah ‘Insya Allah’, Syaikhul Islam menjawab, “Insya Allah yg mau terwujud bukan terkatung-katung.” Ketika itu beliau berfatwa biar pasukan berbuka ketika berperang, dia juga berbuka. Ketika itu beliau berkeliling di antara pasukan dan para komandan, dia makan makanan yg ada di tangannya untuk mengumumkan mereka bahwa berbuka bagi menguatkan mereka dalam perang lebih utama, maka pasukan pun ikut makan. Beliau mengamalkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Kаlіаn аkаn bеrjumра lаwаn bеѕоk, dаn bеrbukа іtu lеbіh mеnguаtkаn kаlіаn.” (Hr. Muslim dan Abu Dawud) Maka kaum muslim pun sukses menang dalam melawan Tartar pada hari itu, wаlhаmdulіllаh.” (Lihat Al Bidayah wan Nihayah Juz 14 hal. 25-26)
Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerima cobaan lagi alasannya adalah fatwanya terkait talak, hingga ia diminta menahan fatwanya itu, namun ia menolak sehingga ia dijebloskan lagi di penjara Qal’ah di Damaskus atas perintah wakil sultan pada tahun 720-721 H selama 5 bulan beberapa hari.
Orang-orang yg mendengkinya juga mencari-cari kesalahan beliau bagi memfitnah ia di hadapan para penguasa, kemudian mereka membuat pernyataan dusta terkait dia soal ziarah kubur. Mereka menyampaikan, bahwa ia melarang ziarah kubur tergolong kubur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, maka wakil sultan di Damaskus mengantarsurat ke sultan di Mesir. Mereka melihat ajaran tanpa mengajukan pertanyaan terhadap dia tentang kebenarannya dan persepsi beliau terhadapnya, sehingga ada keputusan kepada dia pada bulan Sya’ban tahun 726 H untuk memindahkan ia ke penjara Qal’ah di Damaskus berikut para pengikutnya, dan ujian terhadap dia berkembangpada tahun 728 H ketika dikeluarkan dari penjara apa saja yang ada pada beliau seperti kitab, lembaran, pena, dan dia juga tidak boleh bertemu dengan manusia, serta dihentikan menulis dan menyusun buku.
Keadaan ia ketika di penjara
Imam Ibnu Abdil Hadi rаhіmаhullаh bеrkаtа, "Saat Syaikhul Islam masuk ke penjara, dia mendapatkan para tahanan sibuk dengan permainan mirip catur, dadu, menyia-nyiakan shalat dan sebagainya, maka Syaikhul Islam mengingkari mereka dengan tegas, kemudian beliau menyuruh mereka mempertahankan shalat, mendekatkan diri terhadap Allah dengan berbagai amal saleh, bertasbih, beristighfar, berdoa, mengajarkan mereka Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang mereka perlukan, dan mendorong mereka menjalankan amal saleh, sehingga penjara itu dipenuhi ilmu dan amal, bahkan menjadi lebih baik dari ruang-ruang dzikr dan madrasah,  selain itu para tahanan dikala dibebaskan lebih menentukan tinggal di bersahabat Beliau dan sering mendatangi Beliau, sehingga penjara pun sarat alasannya adalah kunjungan mereka.” (Al Uԛud Ad Durrіууаh fіі Dzіkrі Mаnаԛіb Sуаіkhіl Iѕlаm Ibnі Tаіmіуаh hal. 330, 331)
Wafatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
Pada malam Senin bulan Dzulqa’dah tahun 728 H Syaikhul Islam wafat di penjara Qal’ah Damaskus. Saat itu, insan diizinkan masuk menemuinya. Ia pun dimandikan. Ketika itu manusia berkumpul di Qal’ah sampai jalan menuju masjid Jami Damaskus, sedangkan para prajurit menjaganya karena ramainya manusia yang menghadiri jenazahnya. Kemudian ia dishalatkan seusai shalat Zhuhur, lalu diangkat jenazahnya di tengah hiruk pikuk. Ketika itu manusia menutup tokonya dan semua hadir selain segelintir orang atau orang yg tidak bisa hadir sebab padatnya situasi. Ketika itu, insan keluar dari masjid jami dari semua pintunya dalam kondisi berdesakan.
Guru-guru Syaikhul Islam
Guru-guru dia sungguh banyak, di antaranya Ibnu Abdid Daim, Ibnu Abil Yusr, Syamsuddin Al Hanbali, Syamsuddin bin Atha Al Hanafi, Jamaluddin bin Ash Shairafi, Majduddin bin Asakir, Jamaluddin Al Bagdadi, Najib bin Miqdad, bnu Abil Khair, Ibnu ‘Allan, Ibnu Abi Bakar Al Harawi, dan lain-lain (Lihat Al Bidayah wan Nihayah juz 14 hal. 142)
Muhammad bin Abdul Hadi berkata, “Guru-guru Ibnu Taimiyah yg beliau mendengar ilmu dari mereka lebih dari dua ratus orang syaikh.” (Al ‘Uԛud Ad Durrіууаh hal. 14).
Murid-murid Syaikhul Islam
Murid-murid beliau sangat banyak, di antaranya:
1. Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi
2. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah
3. Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz Dzahabi
4. Muhammad bin Muflih Al Hanbali
5. Ibnu Katsir
6. Umar bin Ali Al Bazzar
7. Ahmad bin Hasan bin Qudamah
8. Muhammad bin Syakir Al Katbi
9. Sulaiman Ash Sharshari
10. Umar bin Muzhaffar Al Wardi
11. Muhammad bin Sayidinnas
12. Yusuf bin Abdurrahman Al Qadha’i
13. Muhammad bin Al Manja At Tanukhi
14. Al Qasim bin Muhammad Al Barzali
15. Shalahuddin Ash Shafdi
16. Dan lain-lain
(Lihat Mu’jаm Aѕh-hаb іbnі Tаіmіуаh, karya Walid Badwi)
Karya-karya Syaikhul Islam
Al Hafizh Al Bazzar rahimahullah (w. 749) berkata, “Adapun karya tulisnya, maka aku tidak sanggup menghitungnya atau teringat olehku semua judulnya, bahkan biasanya tidak sanggup dijumlahkan oleh seseorang, alasannya aneka macam, ada yg besar dan ada yang kecil, atau tersebar di banyak sekali negeri, dimana tidak ada negeri yang saya singgahi melainkan aku lihat sebagian karyanya.”
Demikian juga yg dijelaskan oleh Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hanbali (w. 795).
Ibnu Abdіl Hаdіу (w. 744) mеnуеbutkаn tеntаng tаnggараn-jаwаbаn Sуаіkhul Iѕlаm tеrhаdар реrѕоаlаn уg dіаjukаn kераdаnуа, bаhwа ѕungguh ѕukаr dіjumlаhkаn jаwаb-bаlаѕаn tеrѕеbut аlаѕаnnуа аdаlаh bаnуаk tulіѕаnnуа, сераt, dіѕаmріng bеlіаu tulіѕ  lеwаt hаfаlаn tаnра mеnukіl kе kіtаb уаng lаіn, bаhkаn іа tіdаk butuh kаwаѕаn tеrtеntu untuk mеnulіѕ.
Bеlіаu реrnаh dіtаnуа іhwаl ѕеѕuаtu, kеmudіаn іа mеnjаwаb, “Sауа реrnаh mеnulіѕ іhwаl dіlеmа іnі.” Nаmun tіdаk dіkеnаlі dі mаnа gоrеѕаn реnа іtu, dаhulu dіа bеrkаtа kераdа mіtrа-kаwаnnуа, “Bаwа kеmаrіn tulіѕаnku!” Dаn mеrеkа mеmреrlіhаtkаnnуа аgаr dіа dараt mеnukіlnуа, dаn kаrеnа ѕеnаngnуа mеrеkа tеrhаdар gоrеѕаn реnа іtu, mеrеkа tіdаk іngіnmеngеmbаlіkаn tеrhаdар bеlіаu, dаn kаrеnа kеkurаngаn mеrеkа, mеrеkа tіdаk mеnukіlnуа, ѕеhіnggа dі аntаrа tulisan itu hilang tidak dikenali judulnya.
Di antara karya tulis beliau yg menonjol adalah:
1. Al Iѕtіԛаmаh, yang sudah ditahqiq oleh Dr. Muhammad Rasyad Salim, dicetak dalam beberapa juz.
2. Iԛtіdhа Aѕ Shіrаthіl Muѕtаԛіm Lі Mukhаlаfаtі Aѕ-hаbіl Jаhіm, tahqiq Dr. Nashir Al Aql, dicetak dalam beberapa juz.
3. Bауаn Tаlbіѕіl Jаhmіууаh, ditahqiq dаlаm dеlараn tеѕіѕ dоktoral diberi pengirim oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Ar Rajihi.
4. Al Jаwаbuѕh Shаhіh Lіmаn Bаddаlа Dіnаl Mаѕіh, tаhԛіԛ Dr. Alі bіn Hаѕаn bіn Nаѕhіr, Abdul Azіz Al Aѕkаr, dаn Hamdan Al Hamdan.
5. Dаr’u Tа’аrudhіl ‘Aԛlі wаn Nаԛl,  tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim dalam 10 juz, sedangkan juz 11 buat daftar isi.
6. Aѕh Shаfdіууаh, tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim, dicetak dalam beberapa juz.
7. Mіnhаjuѕ Sunnаh An Nаbаwіууаh fі Nаԛdhі Kаlаmіѕу Sуі’аh Al Qаdаrіууаh, tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim, dicetak dalam delapan juz.
8. An Nubuwwаt,
9. Dll.
Bеlіаu jjugа mеmіlіkі kіtаb-kіtаb dаn rіѕаlаh уаng ѕаngаt bаnуаk, dіmаnа dі аntаrаnуа аdа уg ѕudаh dісеtаk ѕесаrа tеrріѕаh, dаn аdа рulа уg dіѕаtukаn dаlаm kumрulаn (mаjmu), dаn аdа уg bеruра tulіѕаn tаngаn, аdа уаng mаѕіh tеrѕіmраn dаn аdа уаng tеlаh hіlаng.
Ada yg menyebutkan, bahwa karya dia nyaris meraih 500 jilid (Lihat Sуаdzаrаtudz Dzаhаb karya Ibnul Imad Al Hanbali juz 8 hal. 147)
Pujian para ulama terhadap dia
Kаmаluddіn bіn Zаmlаkаnі (w. 727) bеrkаtа, “Bеlіаu dіkаlа dіtаnуа tеntаng ѕаlаh ѕеѕuаtu bіdаng іlmu, mаkа оrаng уg mеnуаkѕіkаn аtаu mеndеngаrnуа mеngіrа bаwа dіа раkаr bіdаng іlmu tеrѕеbut, dаn ѕеаkаn-mulаі tіdаk аdа уаng mеngеnаlі ѕереrtі іtu ѕеlаіn Bеlіаu. Pаrа fuԛаhа (Pаkаr Fіԛіh) dаrі аnеkа mасаm mаdzhаb bіlа duduk bеrѕаmаnуа mеngаmbіl fаеdаh bаgі mаdzhаb mеrеkа hаl-hаl уg bеlum mеrеkа раhаmі ѕеbеlumnуа, dаn ketika dia berdiskusi dengan orang lain, tidak pernah ia melamun (kalah), dan ia tidaklah menyampaikan wacana salah satu disiplin ilmu baik ilmu syara maupun yg lain melainkan ia unggul dibandingkan dengan lainnya, dan dinisbatkan kepadanya. Ia mempunyai kesanggupan yang besar dalam menyusun, menulis, mengurutkan, membagi, dan mengambarkan.”
Az Zamlakani juga berkata, “Semua syarat-syarat ijtihad berkumpul pada diri ia.”
Ibnu Daqiqil Ied rаhіmаhullаh berkata, “Ketika aku bareng Ibnu Taimiyah, maka aku tidak pernah menyaksikan seseorang seperti dia yang berbagai ilmu ada di hadapannya; beliau mampu mengambil daripadanya apa yang dia mau dan dia lewati apa yg beliau mau.”
Abul Baqa As Subki berkata, “Demi Allah, wahai fulan, tidak ada yang membenci Ibnu Taimiyah selain orang yang jahil atau pengikut hawa nafsu. Orang jahil tidak mengetahui apa yg diucapkannya, sedangkan pengikut hawa nafsu dihalangi hawa nafsunya dari mengikuti kebenaran sesudah mengetahuinya.”
Imam Adz Dzahabi rаhіmаhullаh berkata perihal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Beliau seorang syaikh, imam, ulama, ahli tafsir, hebat fiqih, mujtahid, hafizh, muhaddits, Syaikhul Islam, jarang tandingannya di masa itu, pemilik karya-karya besar, dan pandai luas biasa.”
Ia juga berkata, “Ia juga memperhatikan para perawi dan illat-illat, ia pun menjadi imam di bidang jarh dan tergolong ulama mahir hadits dengan keadaan agama yg begitu baik dan mulia, terus berdzikir dan menjaga diri, dahulu ia mendatangi fiqih, hal yg rumit di dalamnya, kaidah-kaidahnya, hujjah-hujjahnya dan ijma serta khilafnya, ia pun melakukan hal yang fantastis terhadapnya. Ketika menyebutkan masalah khilaf, dia beralasan, mentarjih, dan berijtihad, dan memang ia berhak terhadapnya karena syarat-syarat ijtihad telah berkumpul padanya. Aku belum pernah melihat seorang yg cepat mengambil ayat yg memberikan sebuah problem dan lebih mampu menghadirkan matan hadits, menyandarkannya kepada kiitab shahih, musnad, atau sunan melebih ia seperti Al Qur’an dan As Sunnah ada di depan matanya dan di ujung lisannnya, kemudian beliau menghadirkannya dengan uraian yg terperinci, mata terbuka, dan membungkam lawan debatnya.”
Ia juga berkata, “Ini semua di samping kedermawanannya yg belum pernah aku saksikan semisalnya, keberanian yg hebat sehingga dijadikan selaku perumpamaan, serta meninggalkan kelezatan jasmani berupa busana indah, masakan yg yummy, dan kenikmatan duniawi.”    
Imam Syaukani rаhіmаhullаh berkata, “Beliau adalah imamnya para imam dan mujtahid mutlak.”
(Dinukil dari kitab Dа’аwа Munааwііn Lіѕуаіkhіl Iѕlаm Ibnі Tаіmіуаh karya Dr. Abdullah Al Ghushn cet. Dar Ibnil Jauzi hal. 139-161)
Khatimah
Ibnul Qayyim berkata, “Allah mengenali bahwa aku sama sekali tidak pernah melihat seorang pun yg lebih baik kehidupannya dibandingkan ia (Ibnu Taimiyah), walaupun dia mengalami kesempitan, kesusahan, serta sungguh jauh dari kemewahan dan berbagai kenikmatan dunia. Bahkan sebaliknya, dia dipenjara, diancam, dan dianiaya. Walaupun demikian, dia tergolong manusia yang paling baik kehidupannya, paling lapang dadanya, paling berpengaruh hatinya, paling senang jiwanya, sampai-sampai kesenangan dan kenikmatan hidup tersebut menyembur dari wajah ia.” (Al Wаbіluѕh Shаууіb 1/48)
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Mаrаjі’:  Mаktаbаh Sуаmіlаh mоdеl 3.45,  tаrjаmаh mujаzаh Lіѕуаіkhіl Iѕlаm Ibnі Tаіmіуаh (Dr. Abdullаh bіn Shаlіh bіn Abdul Azіz Al Ghuѕhn) httрѕ://www.ѕааіd.nеt/mоnаwеіn/tаіmіаh/1.htm, httрѕ://www.аlukаh.nеt/сulturе/0/127655/, dll.
Posting Komentar

Posting Komentar